Langsung ke konten utama

Suatu Masa, Sebuah Cerita



A : "Kak, kenapa sih kalo makan menunya itu ituuuu aja. Kalo g telur ya sama tempe, plus sayur. Kadang-kadang ya ikan. Hidup hemat atau gimana tuh kak?"

B : "Hidup hemat? Gak juga sih. Kalo hemat mah tiap hari tempe aja cukup tuh. Cuma masih kurang komplit dan berimbang gizinya"

A : "Lha terus kenapa dong? Apa gak bosen menunya itu-itu melulu?

B : "Hmm...gini deh, sekarang. Kamu bosen nggak sama yang namanya shalat atau ibadah-ibadah wajib lainnya?


A : "Naudzubillahimindzalik. Jangan sampe kak. Kok nyambungnya kesana sih??"


B : "Hha. Ya nyambunglah. Coba search itu di app hape kamu, baca terjemah 2:168"


A : "Wahai manusia! Makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu."


B : "Konsumsi makanan yang halal itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, jangan sampai disepelekan. Okelah kita hidup di negara mayoritas muslim. Hanya saja faktanya, justru kita masih banyak di kepung makanan yang tak halal dan tak jelas kehalalannya (syubhat). Jadi, kenapa harus bosan untuk menjaga makanan yang kita makan supaya tetap yang halal? Ini pun juga ibadah wajib. Telur, sayur dan ikan adalah contoh makanan yang terjamin kehalalannya. Hanya tinggal masalah cara mendapatkannya. Itu relatif lebih mudah ditanyain ke penjual. Jadi, jelas saya lebih tenang seperti itu daripada makan yang lain kagak jelas eh tnyata haram dan jadi mendarah daging di tubuh kita. Ini semata kan juga sebuah upaya agar segala amal ibadah kita diterima. Paham sekarang??"
 

A : "Masya Allah...iya kak. Paham sekarang, pantes aja. Sepele tapi beneran ngeri. Apalagi selama ni jarang kita peduli dan mau mencari tahu padahal nikmat indera juga akal sudah diberikan tapi kita enggan menggunakan. Astaghfirullah. Makasih kak ilmunya. Semoga saya juga bisa lebih menjaga lagi"
 

B : "Aamiin"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Para "PENDIDIK"

Ditulis oleh Guru Besar FE UI - Prof. Rhenald Kasali LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya...

Berbicara Cinta (#kultwit)

Siapa yang tidak mengenal CINTA? Saya rasa semua orang pasti pernah merasakannya. Semua memiliki definisi yang beragam tentangnya. Apakah yang bisa menjadi indikator CINTA? Jelas banyak bukan? yang pasti masing-masing dari kita telah mengetahuinya.. Apa salah satunya? Salah satunya, CINTA bergantung seberapa banyak waktu rela diluangkn utk sesuatu hal. Seperti kita yang memiliki PASSION masing-masing, dengan senang hati meluangkan waktu kita tentunya untuk hal yang berkaitan dengan PASSION kita yg beragam Sebagai contoh, ada yang meluangkan waktu untuk menulis, desain grafis, membaca dan masih banyak hal lainnya. Tak peduli rasanya berapa lama waktu yang kita luangkan. Rasanya ingin terus dan terus melakukannya. Itulah CINTA. Namun tidak sedikit dari kita mengatakan CINTA sedangkan fakta berkata lain. Tidak percaya? Itu pilihan. Coba jawab pertanyaan ini jika kita berani, “Apakah kita mengaku CINTA pada Allah? Lumrahnya mayoritas muslim akan menjawab, “Ya, saya CINTA k...

Pemilik Hati

Diri inilah yang paling bertanggungjawab atas rasa yang menghias hari. Siapalah yang tak mengetahui bhwa semua rasa itu semata adalah anugerah-Nya. Namun 1 hal tak terlupa, tetaplah kau yang memilih. Ingin bersahabat baik degannya untuk jalani hari ataukah meninggalkannya karena tak membuat cintamu pada-Nya bertmbuh. Kaulah yang brtanggungjawab, kepada siapa hati akan kau serahkan. Pada Allah semata ataukah ada yang lebih pantas daripada-Nya? Seringkali untai kata menguap hilang tak bermakna, lisan mampu berkata CINTA, namun tindak tak kunjung mengungkap CINTA. Ketika petang telah berganti pagi, kau pun harus memilih, sekali lagi, kepada siapa hati akan kau beri? Akankah kau beri pada Sang Pemilik Hati? Tiada yg tahu, apakah esok kau masih akan memilih ataukah ini yg terakhir kali... Selamat pagi dan selamat meraih mimpi hari ini :)