Langsung ke konten utama

Morning Note #4 : Mental Gratis? No Way!!




Kesungguhanmu mencapai tujuan dan cita,

Tercermin dari pilihan-pilihan yang kau buat hari ini.
Mau jadi penulis?
Mau jadi ilmuwan?
Mau jadi hafidz?
Atau mau jadi pengusaha??
Coba liat seharian ini kamu ngapain aja, perhatikan baik-baik
Tulis dan centang semua kegiatan yang mengarah pada tercapainya tujuan dan cita
Nah, kira-kira seberapa banyak waktu dan kegiatan-kegiata yang mengarah benar?
Itulah tingkat kesungguhanmu

Gak ada ceritanya orang jadi dosen tapi kerja sehari-hari sebagai preman.
Gak ada ceritanya orang jadi hafidz tapi sehari-hari baca qur'an 1 halaman tanpa hafalan,
Gak ada ceritanya gan. Plis deh, itu namanya mimpi.

Penjahat bisa jadi ustadz aja itu karena kesungguhan membuat pilihan kok. Pilihan yang sangat berat untku merubah semua kebiasaan dan budaya hidup lama nan kelam dengan budaya taqwa pada Tuhan.
Jangan jadikan hidayah sebagai legitimasi dan pembenaran bahwa dia bisa begitu. Kita semua bisa, asal pilihan yang kita buat benar-benar dan sungguh-sungguh, hingga level beratnya sama tuh ma dia. Bukannya hidayah itu dijemput? kita aja yang belum menjemput. Gitu mau dapet gimana? Kok ya enak. Mental gratisan jadi andalan.

So?? Kalo belum coba dan sungguh-sungguh, jangan komen (ngeluh) dan jangan bandingkan dan rendahkan dirimu gan. Kamu semua itu menjadi luar biasa asal kamu mau. Selama itu baik kenapa tidak? Dekatkanlah juga diri ke Tuhan-Mu, jangan hanya kamu beri waktu sisa jika ingin Tuhan menolongmu
Hari gini jangan banyak OMDO. Udah kagak jamannya. Imbangilah dengan AKSI.
Daripada entar keburu MATI pasti nyesel lo.

Perjelas tujuan,
Buatlah pilihan-pilhan bijak, lakukan dengan sungguh-sungguh
Sisanya pasrahkan pada Tuhan-Mu dalam tiap sujudmu
Kau esok hari, adalah cermin pilihanmu hari ini
Yuk berbenah bareng-bareng,
Sekarang juga GA PAKE nanti

Mental Gratis? No Way!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum Ajal Tiba

Jika ingin selamat dalam kehidupan dunia ini, jauhilah dosa, baik yang terang-terangan maupun yang tersamar. Janganlah beristighfar atas dosa tersebut, lalu kembali melakukannya. Perumpamaan orang yang banyak melakukan istighfar, tetapi masih mengulangi dosa-dosanya, seperti orang yang banyak minum obat, tetapi juga sering meminum racun. Nasihatilah dia dengan berkata,”Bisa jadi sebelum meminum obat, engkau sudah keburu mati lebih dahulu. Bisa jadi ajal datang setelah engkau berbuat dosa, padahal engkau belum sempat bertobat. Sehingga engkau pun mati dalam kondisi maksiat dan berdosa. Sungguh, ini adalah bahaya besar. Siapa pun yang enggan meninggalkan perbuatan terlarang, percuma ia melakukan kewajiban-kewajiban. Ibarat orang yang sakit, selama ia tidak menahan diri dari makanan yang dilarang dan tidak melakukan diet, percuma ia meminum obat. Ibarat orang yang membersihkan pakaiannya, sementara ia jatuhkan dirinya ke dalam kubangan lumpur. Mana mungkin pakaiannya bisa bers...

Satu

Satu yg belum menyatu, Satu yg belum bersatu Satu yg diam terpaku, Satu yg masih berpangku Itukah kita? benarkah kita adalah satu? Faktanya nian kelabu, segalanya beradu namun tak padu… Rindu akan kita bersatu, Melalui waktu demi waktu, Berbekal harapan, wujudkan impan mengukir sejarah baru Penuh khidmat dalam bahagia dan haru Inilah sebuah catatan ekspresi kalbu, Dari satu dan untuk satu Satu Tuhanku, Allah Ta’ala Satu Bangsaku, Indonesia #RF230114

Untuk Para "PENDIDIK"

Ditulis oleh Guru Besar FE UI - Prof. Rhenald Kasali LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya...