Langsung ke konten utama

Berbicara Cinta (#kultwit)




  1. Siapa yang tidak mengenal CINTA? Saya rasa semua orang pasti pernah merasakannya. Semua memiliki definisi yang beragam tentangnya.
  2. Apakah yang bisa menjadi indikator CINTA? Jelas banyak bukan? yang pasti masing-masing dari kita telah mengetahuinya..
  3. Apa salah satunya? Salah satunya, CINTA bergantung seberapa banyak waktu rela diluangkn utk sesuatu hal.
  4. Seperti kita yang memiliki PASSION masing-masing, dengan senang hati meluangkan waktu kita tentunya untuk hal yang berkaitan dengan PASSION kita yg beragam
  5. Sebagai contoh, ada yang meluangkan waktu untuk menulis, desain grafis, membaca dan masih banyak hal lainnya.
  6. Tak peduli rasanya berapa lama waktu yang kita luangkan. Rasanya ingin terus dan terus melakukannya. Itulah CINTA.
  7. Namun tidak sedikit dari kita mengatakan CINTA sedangkan fakta berkata lain. Tidak percaya? Itu pilihan.
  8. Coba jawab pertanyaan ini jika kita berani, “Apakah kita mengaku CINTA pada Allah?
  9. Lumrahnya mayoritas muslim akan menjawab, “Ya, saya CINTA kepada Allah”
  10. Sekarang kita beralih ke pertanyaan, “Berapa lama waktu yg kita luangkan dan berikan untuk-Nya?”
  11. Pastilah jawabannya bervariasi. Jika banyak? Alhamdulillah semoga tetap terjaga. Jika sedikit? Alhamdulillah masih ada daripada tidak sama sekali.
  12. Mengaku CINTA? Yang sedikit tingkatkan. Yang banyak dijaga seraya tetap ditingkatkan.
  13. Meluangkan waktu untuk-Nya tak trbatas pada shalat, puasa, mengaji dan segala ibadah yang biasa kita tahu dan lakukan
  14. Bukankah semua pekerjaan dapat bernilai Ibadah hanya dengan meluruskan niat melakukannya karena Allah?
  15. Tentunya tetap dalam koridor kebaikan, segala hal yang tidak menyimpang dari syari’at. Sebab kewajiban kita bukan hanya beribadah pada-Nya, tapi juga sebagai khalifah.
  16. Artinya, sebagai pemimpin pastilah kita mengajak kepada yang baik dan meninggalkan yang buruk.
  17. Menunjukkan mana yang baik dan mana yang salah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah. Yang manapun dipilih tak masalah, ada konsekuensi masing2. Itu pilihan.
  18. Pilihan kita pun representasi dari hal mana yang lebih kita CINTA.
  19. Mengaku CINTA? Mari renungkan, buatlah pilihan2 bijak dan buktikan bahwa kita benar2 CINTA. CINTA pada-Nya, diatas segalanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum Ajal Tiba

Jika ingin selamat dalam kehidupan dunia ini, jauhilah dosa, baik yang terang-terangan maupun yang tersamar. Janganlah beristighfar atas dosa tersebut, lalu kembali melakukannya. Perumpamaan orang yang banyak melakukan istighfar, tetapi masih mengulangi dosa-dosanya, seperti orang yang banyak minum obat, tetapi juga sering meminum racun. Nasihatilah dia dengan berkata,”Bisa jadi sebelum meminum obat, engkau sudah keburu mati lebih dahulu. Bisa jadi ajal datang setelah engkau berbuat dosa, padahal engkau belum sempat bertobat. Sehingga engkau pun mati dalam kondisi maksiat dan berdosa. Sungguh, ini adalah bahaya besar. Siapa pun yang enggan meninggalkan perbuatan terlarang, percuma ia melakukan kewajiban-kewajiban. Ibarat orang yang sakit, selama ia tidak menahan diri dari makanan yang dilarang dan tidak melakukan diet, percuma ia meminum obat. Ibarat orang yang membersihkan pakaiannya, sementara ia jatuhkan dirinya ke dalam kubangan lumpur. Mana mungkin pakaiannya bisa bers...

Satu

Satu yg belum menyatu, Satu yg belum bersatu Satu yg diam terpaku, Satu yg masih berpangku Itukah kita? benarkah kita adalah satu? Faktanya nian kelabu, segalanya beradu namun tak padu… Rindu akan kita bersatu, Melalui waktu demi waktu, Berbekal harapan, wujudkan impan mengukir sejarah baru Penuh khidmat dalam bahagia dan haru Inilah sebuah catatan ekspresi kalbu, Dari satu dan untuk satu Satu Tuhanku, Allah Ta’ala Satu Bangsaku, Indonesia #RF230114

Untuk Para "PENDIDIK"

Ditulis oleh Guru Besar FE UI - Prof. Rhenald Kasali LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya...