Langsung ke konten utama

SYUKUR



Jika ada diantara kita (muslim) yang merasa ribet dan repot dengan perkara halal haram, terutama segala hal yang kita masukkan dalam tubuh, yang tak sekalipun kita peduli dan berusaha untuk meninggalkan yg syubhat, maka ingatlah firman Allah ini...

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
(Q.S. 29:2-3)

Ketidaktahuan mungkin menjadi rukhsah. Namun bagaimana dengan ketidaktahuan karena tidak mencari tahu? itu menunjukkan ketidakpedulian kita dan wujud kekufuran kita. Naudzubillah. Ingatkah dengan firman Allah di bawah ini?

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mreka mmpunyai mata (tetapi) tak dipergunakannya untuk melihat (tanda2 kekuasaan Allah), dan mereka mmpunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yg lalai".
(Q.S. 7:179)

Lihatlah semua nikmat yang melekat pada dirimu,
Sudahkah kau memanfaatkannya dengan benar?
Beribadah di jalan-Nya, dalam kecintaan dan ketaatan pada-Nya?
Merasa menjadi pribadi yang slalu bersyukur,
Namun tak banyak ditunjukkan dengan tindakan
Seakan hanya berhenti di hati dan lisan, apa itu cukup?

Mari lebih bijak lagi,
Dalam memilih dan bertindak.
Jangan setengah hati dlm memilih,
Jika mengaku cinta, siaplah berinvestasi
Siaplah menjalani konsekuensi dan tanggung resiko pada diri
Jika tidak siap, berarti kita tidaklah pantas dan layak utk pilihan itu

Awali hari dengan syukur,
Lakukan semua aktivitas semata mengharap ridho-Nya dalam kecintaan pada-Nya
Smoga keberkahan dan limpahan rahmat dari-Nya selalu menaungi kita
Yasarallah lanal khaira haitsuma kunna. aamiin.

Selamat beraktivitas, Semangat pagi

(RF240913)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum Ajal Tiba

Jika ingin selamat dalam kehidupan dunia ini, jauhilah dosa, baik yang terang-terangan maupun yang tersamar. Janganlah beristighfar atas dosa tersebut, lalu kembali melakukannya. Perumpamaan orang yang banyak melakukan istighfar, tetapi masih mengulangi dosa-dosanya, seperti orang yang banyak minum obat, tetapi juga sering meminum racun. Nasihatilah dia dengan berkata,”Bisa jadi sebelum meminum obat, engkau sudah keburu mati lebih dahulu. Bisa jadi ajal datang setelah engkau berbuat dosa, padahal engkau belum sempat bertobat. Sehingga engkau pun mati dalam kondisi maksiat dan berdosa. Sungguh, ini adalah bahaya besar. Siapa pun yang enggan meninggalkan perbuatan terlarang, percuma ia melakukan kewajiban-kewajiban. Ibarat orang yang sakit, selama ia tidak menahan diri dari makanan yang dilarang dan tidak melakukan diet, percuma ia meminum obat. Ibarat orang yang membersihkan pakaiannya, sementara ia jatuhkan dirinya ke dalam kubangan lumpur. Mana mungkin pakaiannya bisa bers...

Satu

Satu yg belum menyatu, Satu yg belum bersatu Satu yg diam terpaku, Satu yg masih berpangku Itukah kita? benarkah kita adalah satu? Faktanya nian kelabu, segalanya beradu namun tak padu… Rindu akan kita bersatu, Melalui waktu demi waktu, Berbekal harapan, wujudkan impan mengukir sejarah baru Penuh khidmat dalam bahagia dan haru Inilah sebuah catatan ekspresi kalbu, Dari satu dan untuk satu Satu Tuhanku, Allah Ta’ala Satu Bangsaku, Indonesia #RF230114

Untuk Para "PENDIDIK"

Ditulis oleh Guru Besar FE UI - Prof. Rhenald Kasali LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya...