Langsung ke konten utama

Just Thinking #1










Sering saya berpikir, saat SMA dengan mudahnya dalam sehari menghafal halaman demi halaman bahkan hingga puluhan materi 1 subjek pelajaran dari sebuah buku catatan diantara hingar bingarnya alunan bebunyian alat-alat musik yang sedang dimainkan. Short term memory, mungkin begitulah saya menyebutnya. Ciri-cirinya cepat mengingat, tapi cepat pula untuk lupa. Anehnya, mengapa untuk UAS saya bisa melakukan semua hal itu, sedang untuk kalam Allah saya belum bisa apalagi maksimal dalam melakukannya? Nah loh, kebalik kan jadinya? Kalah telah ma anak kecil. #helanafas

Bukanlah hal yang baru, bahwa ujian di saat lapang adalah saat kita memang tak bisa benar-benar membedakan, mana yang jauh lebih penting bagi kita di masa depan dari apa yang sekedar kita butuhkan untuk masa sekarang. Ketika lisan berselisih paham dengan respon tindakan. Ga akur gitu deh. "Yah, namanya juga manusia, sudah fitrah", begitu biasanya kita membuat alasan (excuse) di kepala kita. Sudah jelas, bagi saya itu adalah alasan. Apalagi nih, kalo kita berurusan dengan hal yang berkaitan dengan-Nya, bener kagak? Udah ngaku aja deh hhe.

Namun demikian, seringkali masih saja kita heran seakan belum bisa percaya, padahal begitulah realita berbicara (emang iya bisa bicara?). Saat kita merasa sudah melakukan semampunya, bersyukur akan banyak hal, padahal sejatinya tidak seperti itu. Mungkin kita saja yang kurang mencoba untuk jujur. Itulah mengapa mengalahkan diri kita sendiri adalah perkara "hebat". Setidaknya, bagi saya. Entah bagaimana dengan orang lain.

Oh ya, sebenarnya apa sih yang ingin saya tulis? mohon maaf, jujur saya juga tidak sepenuhnya tahu. Tapi bilamana ada sebab pastilah ada akibat. Nah, Ini berawal dari status seorang rekan yang mengingatkan akan masa yang telah lalu. Dia lagi bermasalah dengan side effect bisingnya nonbar piala dunia. Semoga ga Ge eR aja saya bahas disini. Intinya cuma ingin menulis apa yang dipikirkan sejak dulu, mumpung inget, yah let it flow aj dah.


So? What's the conclusion?
Well, maybe it's nothing. But I believe, the conclusion lies within you. Think about Allah and just be honest to yourself.

Ah, semoga ini tulisan gaje kagak buang waktu yang nulis & yang kok mau-maunya sih baca? hhe. Ampuun. Just kidding ya mas bro mbak sis.

Terakhir, #intermezzo, kalo orang biasanya tanya udah tilawah berapa juz hari ini, saya justru pengen ngingetin sebaliknya. Eh, 15 hari ini udah bolong berapa juz dari target?? semoga ga banyak yang tetiba merasa #makjleb :D

Jember, 13 Juli 2014
#RF 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Para "PENDIDIK"

Ditulis oleh Guru Besar FE UI - Prof. Rhenald Kasali LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya...

Afternoon Note #4 : Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah perjuangan, katanya Hidup adalah pengorbanan, katanya Semuanya sama-sama benar, begitulah adanya Satu yang pasti, hidup adalah pilihan Yang dalam kehidupan ini memang hanya ada 2 pilihan Memilih berakhir di surga ataukah berakhir di neraka? Memilih setia bersama kebaikan ataukah keburukan? Memilih taat pada firman-Nya dlm Quran ataukah mendurhakai Quran? Semuanya adalah pilihan Hidup adalah pilihan, maka pastikanlah... Diri kita, keluarga, masyarakat kita memilih kebaikan Mengapa? Sebab itulah fitrah setiap insan Kebaikanlah yg diinginkan dan dirindu setiap orang Kapanpun, dimanapun ia berada Sebab kebaikan melahirkan ketenangan Sebab kebaikan melahirkan kedamaian dan kebahagiaan Jika tidak percaya, tanyalah pada diri kita Jika harus memilih, pasti kebaikanlah yg kita pilih Faktanya? Siapa tahu? Dilakukan atau tidak, itu pilihan Pilihan yg pasti punya konsekuensi masing-masing bagi diri kita Bukan hanya dunia melainkan juga akhirat Sebab semua pi...

Berbicara Cinta (#kultwit)

Siapa yang tidak mengenal CINTA? Saya rasa semua orang pasti pernah merasakannya. Semua memiliki definisi yang beragam tentangnya. Apakah yang bisa menjadi indikator CINTA? Jelas banyak bukan? yang pasti masing-masing dari kita telah mengetahuinya.. Apa salah satunya? Salah satunya, CINTA bergantung seberapa banyak waktu rela diluangkn utk sesuatu hal. Seperti kita yang memiliki PASSION masing-masing, dengan senang hati meluangkan waktu kita tentunya untuk hal yang berkaitan dengan PASSION kita yg beragam Sebagai contoh, ada yang meluangkan waktu untuk menulis, desain grafis, membaca dan masih banyak hal lainnya. Tak peduli rasanya berapa lama waktu yang kita luangkan. Rasanya ingin terus dan terus melakukannya. Itulah CINTA. Namun tidak sedikit dari kita mengatakan CINTA sedangkan fakta berkata lain. Tidak percaya? Itu pilihan. Coba jawab pertanyaan ini jika kita berani, “Apakah kita mengaku CINTA pada Allah? Lumrahnya mayoritas muslim akan menjawab, “Ya, saya CINTA k...