Langsung ke konten utama

Sang Pendosa : Kampung Halaman?



Wahai penduduk langit bumi dan seisinya,
Aku hanya ingin bertanya…
Kampung halaman ku itu syurga kan…?

Lantas mengapa aku rela meretas jalan menuju neraka?

TIdakkah aku rindu akan kampung halamanku?

Apakah neraka adalah tempat yang begitu indah daripada taman syurga dan nikmatnya jauh melebihi keberlimpahan nikmat para penduduk syurga?

Mungkinkah aku bosan?
Ah, ingatpun tidak, bagaimana bisa terpikir dalam benakku bosan atas semua nikmat itu.

Ataukah mungkin,
Diriku saja yang belum terjaga?
Aku merasa telah hidup, tapi ternyata hanya raga. Hatiku mati.

Dan kupikir kau pun perlu tahu.
Sungguh aku tak pernah mengerti…

Jika memang sungguh syurga adalah kampung halamanku,
Mengapa lebih sering diriku ini begitu rela dan mudahnya membiarkan langkah demi langkah menapaki jalan yang tidak seharusnya?
Bahkan sudah teramat jelas Allah tunjukkan, ini bukanlah salah satu jalan menuju syurga, melainkan neraka.

Entahlah.
Sekalipun aku berkata cinta pada-Nya.
Ternyata tindakanku menunjukkan sebaliknya.

Tapi yang pasti aku percaya,
Saat ini aku belum terjaga, tenggelam dalam buai mimpi yang mengaburkan segalanya
Dan aku yakin, bahwa kampung halamanku adalah syurga.
Begitu juga dengan kamu, dia dan juga mereka.

"Ya Allah,
Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau.
Sungguh aku ini termasuk orang-orang yang zalim”

"Dan aku…
Hanyalah seorang pendosa yang tiada pernah berhenti meniti jalan taubat untuk menuju-Mu, kembali di sisi-Mu…”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebelum Ajal Tiba

Jika ingin selamat dalam kehidupan dunia ini, jauhilah dosa, baik yang terang-terangan maupun yang tersamar. Janganlah beristighfar atas dosa tersebut, lalu kembali melakukannya. Perumpamaan orang yang banyak melakukan istighfar, tetapi masih mengulangi dosa-dosanya, seperti orang yang banyak minum obat, tetapi juga sering meminum racun. Nasihatilah dia dengan berkata,”Bisa jadi sebelum meminum obat, engkau sudah keburu mati lebih dahulu. Bisa jadi ajal datang setelah engkau berbuat dosa, padahal engkau belum sempat bertobat. Sehingga engkau pun mati dalam kondisi maksiat dan berdosa. Sungguh, ini adalah bahaya besar. Siapa pun yang enggan meninggalkan perbuatan terlarang, percuma ia melakukan kewajiban-kewajiban. Ibarat orang yang sakit, selama ia tidak menahan diri dari makanan yang dilarang dan tidak melakukan diet, percuma ia meminum obat. Ibarat orang yang membersihkan pakaiannya, sementara ia jatuhkan dirinya ke dalam kubangan lumpur. Mana mungkin pakaiannya bisa bers...

Satu

Satu yg belum menyatu, Satu yg belum bersatu Satu yg diam terpaku, Satu yg masih berpangku Itukah kita? benarkah kita adalah satu? Faktanya nian kelabu, segalanya beradu namun tak padu… Rindu akan kita bersatu, Melalui waktu demi waktu, Berbekal harapan, wujudkan impan mengukir sejarah baru Penuh khidmat dalam bahagia dan haru Inilah sebuah catatan ekspresi kalbu, Dari satu dan untuk satu Satu Tuhanku, Allah Ta’ala Satu Bangsaku, Indonesia #RF230114

Untuk Para "PENDIDIK"

Ditulis oleh Guru Besar FE UI - Prof. Rhenald Kasali LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. ...Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya...